• Almanak

    October 2017
    S M T W T F S
    « Mar    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Kontak Kami

    Jemaat Tuhan boleh mengirim artikel Anda ke:
    gmiteklesiabatam@gmail.com

  • Categories

  • Arsip

  • Top Clicks

    • None

“Aku seorang penjual Alkitab”: Ryan Gosling dalam Gangster Squad

bible salesmanMinggu lalu, saya menemukan sebuah trailer “Gangster Squad” film baru yang diperankan Sean Penn (Mickey Cohen) yang baru akan diluncurkan tahun depan. Dalam film yang dasarkan pada buku dengan judul yang sama karya Paul Lieberman, Sersan Jerry Wooters (Ryan Gosling) mengucapkan satu kalimat yang menarik. Wooters berkata “I am a Bible salesman” ketika ditanya Grace Faraday (Emma Stone) tentang apa pekerjaannya.  Saya suka jawaban itu dan kalimat itu saya posting di status facebook saya. Ternyata statemen itu menarik perhatian beberapa teman.

Film yang diinspirasi oleh kisah nyata ini, adalah kisah dua orang detektif LAPD yang berusaha membebaskan LA dari gangster di tahun 1940an and 1950an. LA waktu itu dikuasai raja bandit Mickey Cohen yang menguasai semua penghasilan dunia kejahatan mulai dari drugs, senjata, dan prostitusi. Ia tidak hanya menguasai orang-orangnya tetapi para polisi dan politisi dibawah kontrolnya. Semua orang takut, kecuali agen LAPD dipimpin oleh sersan John O’Mara (Josh Brolin) dan Jerry Wooters (Ryan Gosling), yang bersatu untuk melawan Cohen.

Film ini direncanakan untuk diluncurkan pada 7 September  2012, tetapi terjadi beberapa penundaan dan karena terjadi Aurora shooting, oleh Warner Bros. Pictures peluncurannya dimundurkan ke 11 January 2013.

Penasaran dengan asal usul statement itu, saya menelusuri dunia maya. Akhirnya saya sampai kepada sebuah novel karya Clyde Edgerton berjudul “The Bible Salesman”. Novel yang diterbitkan tahun 2008 itu menceritakan tentang Henry Dampier, pemuda berusia 20 tahun yang bergumul dengan dilema moral dan pekerjaannya.

Diceritakan bahwa saat dia sedang berkeliling menjual Alkitab yang semula ia maksudkan untuk dibagikan secara gratis, Henry bertemu seorang penipu: Preston Clearwater. Kalau Henry adalah penipu bernuansa religius dengan menjual Alkitab, Clearwater adalah penipu yang sekuler. Clearwater mengaku bahwa ia adalah seorang agen FBI padahal ia adalah anggota sindikat pencuri mobil. Ia mengaku kepada Henry bahwa sebagai agen FBI ia sedang mencoba menyusup ke jaringan pencuri mobil dan membutuhkan seorang rekan. Henry bisa menjual Alkitabnya kapan saja ketika ia tidak sedang membantu Clearwater (and FBI) mencuri mobil sebagai bagian dari aksi penyusupan, kata Clearwater.

Dalam bab-bab yang berjudul “Genesis” dan “Exodus”, dan kemudian“Revelation”, Henry bergumul dengan kesimpulan-kesimpulan theologis sementara kejahatan Clearwater, yang tidak diketahui olehnya, makin menjadi-jadi. Alkitab dan hormone adalah dua kekuatan yang luar biasa namun Henry berhasil untuk tidak memperdayai keduanya. Sebagai seorang penganut Baptist yang teguh, ia tidak menyesal menipu dalam menjual Alkitab, namun ia berat menerima inkonsistensi dalam Injil. Misalnya: Kalau Allah itu berkuasa, mengapa ia perlu beristirahat pada hari ketujuh?

Sebaiknya Clearwater adalah seorang penggoda, yang percaya bahwa dunia tak lebih hanyalah sebuah tempat bagi terjadinya sesuatu. Bahkan sebelum Henry bertemu Marleen Green, seorang gadis yang kemudian mengambil keperjakaan Henry, Clearwater telah merasionalisasi seruan Alkitab yang mengutuk sex di luar perkawinan. Jika orang seperti Abraham “si orang baik” melakukannya tanpa ganjaran, mengapa saya tidak”, kata Henry kepada dirinya kemudian.

Alegory menjadi dewasa yang sangat longgar dari Henry, dari Taman Eden milik Marleen ke konfrontasinya dengan iblis, membuatnya berhenti dari kelas-kelas Sekolah Minggu (dalam tradisi gereja Baptis di Amerika selain kebaktian minggu, ada juga kelas-kelas untuk pendalaman Alkitab yang disebut Sunday Schools) ke ambiguitas moral Alkitab.“I’ve changed my ideas about a lot of things,” Henry berkata kepada sepupunya setelah janji untuk menjaga keperjakaannya luluh di hadapan Marleen Green. Sang sepupu menanyakan apa yang terjadi. “I started reading the Bible,” katanya. Ia baru benar-benar membaca Alkitab ketika diperhadapkan dengan pergumulan eksistensial.

Bukankah hidup kita seringkali seperti Henry Dampier?

Kita menyangka kita telah berada di jalan yang benar, kita telah bekerja pada orang yang benar, kita telah membela orang yang benar, kita telah memegang ideologi yang benar, kita telah melakukan yang benar, tetapi sebenarnya kita bersandar pada tiang yang salah. Banyak kali tanpa kita sadari kita sebenarnya sedang membela para penjahat, dan penipu, dan pembunuh dan kita menyangka kita sedang melayani Tuhan lewat apa yang kita lakukan.

Seperti Henry kita menyangka kita sedang bekerja sebagai abdi negara, yang membolehkan kita untuk melanggarkan sejumlah prinsip moral dan etis, tetapi sesungguhnya kita sedang mengabdi pada para penipu yang memperalat kita untuk kepentingan mereka saja. Kita begitu naive untuk tidak mengetahui ke mana, dari mana dan untuk apa kerja yang kita lakukan.  Ada juga yang sadar namun tidak berdaya untuk melepaskan diri, atau sudah merasa nyaman dalam kejahatan sehingga dan berusaha merasionalisasi apa yang sedang dijalani.

Ketika kita tidak sadar akan apa yang kita lakukan kita akan berkata “kita hanyalah penjual Alkitab”, Cuma sebuah buku, sebuah barang yang sedang kita jual, seperti halnya barang-barang dan buku lainnya. Tetapi ketika kita diperhadapkan dengan dilema-dilema moral dan etis dalam pekerjaan kita maka kita, seperti Henry, akan bilang “saya mulai membaca Alkitab”. Bukan sebuah buku lagi yang sedang kita perjualbelikan namun sebuah kuasa yang sedang kita hadapi, kuasa yang menggoncang iman kita, yang mengganggu kesadaran dan nurani kita. Sebelumnya kita hanya “menjual Alkitab”, kini kita mulai “membaca Alkitab”.

Kembali ke film Gangster Squad, kita mengerti sekarang mengapa sersan Jerry Wooters (Ryan Gosling) mengaku kepada Grace Faraday (Emma Stone) bahwa ia adalah seorang penjual Alkitab. Para polisi sedang melakukan sesuatu yang mereka tahu salah: main hakim sendiri melawan para bandit, membantai para bandit tanpa jalur hukum. Sersan John O’Mara bahkan berkata: “We are not solved any case here, we are going to war!”.

Mereka tahu tugas mereka sebagai polisi adalah melindungi tetapi karena para gangster sudah tak bisa diatasi lagi, mereka mengatasinya dengan cara mereka sendiri. Dan mereka sadar itu salah tapi mereka tak punya pilihan. Jerry Wooters saat hendak menembak seorang musuh yang terjatuh, sang musuh berkata: “kamu tak mungkin melakukan ini, kamu seorang polisi.” Wooters berkata: “tidak lagi,” lalu menembak orang itu.  Tulisan dalam trailer itu berbunyi: “To save the law, break it!”

Itulah para penjual Alkitab yang merasa tak ada hubungan antara apa yang mereka lakukan dan apa yang tertulis dalam Alkitab. Menjual Alkitab adalah satu hal, membaca dan menaati Alkitab adalah hal yang berbeda.( )

Advertisements

Secarik pesan, sebuah Alkitab dan tiket pulang

Ada masa-masa di mana kita mengalami masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama orang tua kita. Namun ada saat dimana kita harus meninggalkan mereka, untuk pertama kalinya. Ada yang tahu kapan mereka kembali, namun ada juga yang tidak. Mungkin keberangkatan mereka adalah untuk sekali dan selamanya, sebab banyak yang hanya kembali untuk meletakkan bunga di nisan orang tua mereka. Banyak yang pergi dan pulang, namun saat orang tua menghembuskan napas terakhir mereka, mereka tidak ada di sana.

Dunia dewasa ini, terima kasih kepada teknologi dan globalisasi, menjadi begitu mendekatkan kita. Secarik surat untuk orang tua yang dulu mungkin hanya bisa sampai ke rumah setelah berbulan-bulan, sekarang dalam hitungan detik, bisa sampai ke orang tua kita. Terima kasih kepada teknologi komunikasi, seperti telpon, Skype, dan facebook tentu saja.

Namun jarak tetaplah jarak. sekalipun dunia maya bisa mendekatkan kita dalam hitungan second per detik, jarak Jawa dan Timor tetaplah sama dari dulu sampai sekarang. jarak Rote dan Kupang tak pernah berubah. Jarak Eropa dan Indonesia tak pernah berubah. Jarak Batuplat dan Leiden tak juga bertambah dekat seiring waktu.

Kalau dulu, jarak dan kesedihan berbanding lurus, maka mengalirnya dari pena para sastrawan dan seniman lagu-lagu seperti “Flobamora”, “Ambon Manise”, atau “Ofa Langga Soba-Soba”. Namun sekarang perbandingan lurus ini tak begitu lagi dirasakan banyak orang. Namun apakah berarti rindu terobati hanya dengan duduk di depan laptop bercakap-cakap dengan orang-orang tersayang? apakah rindu menjadi terobati ketika mendengarkan suara mama tersayang atau ayah yang sudah semakin tua?

Sedikit, mungkin. Tetapi tak akan banyak mengubah kerinduan bersama sebagaimana kita seharusnya bertemu orang tua kita, pasangan kita atau anak-anak kita. Pertanyaan sederhana: Bagaimana kalau mereka sakit?; bagaimana kalau mereka tak mengharapkan hadiah atau oleh-oleh apapun selain kehadiran anak yang mereka kasihi?

Jarak tetaplah jarak, karena dunia semakin tua namun tak menjadi kecil atau menyusut. Seperti kata penyair lagu OFA LANGGA SOBA-SOBA: “kota nai kota de, ma Lote nai Lote de” (Kupang di Kupang jua dan Rote adalah di Rote jua). Tak ada yang bisa menggabungkan Kupang dan Rote di satu tempat. Walaupun geographer dan ahli globalisasi David Harvey menyebut globalisasi sebagai “space-time compression“, globalisasi tetap tak bisa menggabungkan dua kutub dunia yang berbeda. Globalisasi tak menggantikan apapun kecuali mengurangi sakit rindu yang akut. Obat rindu yang paling mujarab hanyalah kalau kita benar-benar bertemu. Semoga mereka yang memendam rindu kepada ayah, ibu, anak, istri mereka diberikan kekuatan untuk menyimpan rindu itu sampai saatnya nanti.

Memang, ada mimpi yang kita kejar,tetapi ada yang lebih berharga yang menantikan kita.  Mereka memang tak ada di sana ketika kita dalam kesulitan, tetapi setiap malam berdoa selalu untuk kita walaupun kita sering melupakan mereka. Mereka menantikan kita pulang lebih dari sejuta hadiah dan oleh-oleh dan foto. Tak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan mereka ketika kita pulang ke rumah. Tak ada yang lebih mengkhawatirkan mereka ketika mereka lama dan mendengar kabar dari kita. Apalagi ketika kita tak pernah berkirim kabar. Hati mereka tak akan tenang jika kita mengalami kesusahan, mungkin mereka mengalami mimpi buruk, mungkin mereka merasa tak enak atau bahkan mencoba menghubungi kita. Siapa lagi yang mengkhawatirkan kita, kalau bukan orang yang menghadirkan kita ke dunia. Merekalah orang-orang yang menerima kita dengan tangan terbuka dan hati yang hangat ketika mimpi-mimpi kita hancur berantakan dan kita berlari dalam tangis pulang ke rumah.

Semoga, kita punya semua yang kita butuhkan untuk kembali dan pulang. “Kembali dan Pulang” adalah obat bagi semua yang merindukan orang-orang tersayang. Janganlah pulang hanya untuk meletakkan bunga di batu nisan, karena itu akan menjadi penyesalan seumur hidup.

Saat menulis notes ini saya menemukan sebuah lagu religius di YouTube yang bercerita tentang harapan dan penantian orang tua kepada anaknya yang meninggalkan rumah. Dalam lagu itu sang ibu menyisipkan sebuah Alkitab dan sebuah tiket pulang di tas pakaian anaknya.

Kita semua tahu, semua orang tua akan berat melepas anaknya untuk pertama kalinya. Seperti baru kemarin, si kecil berlari-lari di halaman rumah, terjatuh dan menangis sambil mengadu ke papa atau mamanya. Sekarang dia akan berlari-lari di kerasnya dunia; dunia yang sudah dilalui sang ayah dan ibu ketika si kecil hanya merasakan manisnya masa kecil. Dan di dunia yang nyata itu, tak ada ayah dan ibu yang bisa menjadi tempat pelarian setiap saat.

Karena itu bagi para ayah dan ibu, jika boleh, anak-anak mereka tak usah meninggalkan mereka. Namun hidup bukalahlah begitu arahnya, sebagaimana dunia harus terus berputar. Tak ada yang bisa menahan berputar dunia dan waktu. Mungkin klise namun nyata: bahwa hidup adalah tautan-tautan pertemuan dan perpisahan setiap saat.

Lagu ini mengingatkan saya akan sebuah penyesalan yang tak bisa terobati. Di saat ayah tercinta saya meninggalkan dunia untuk selamanya, saya sangat jauh dari rumah. Saat ini, saya teringat ibu saya. Hampir siang saat saya berangkat, saya mendatangi rumahnya. Dia membuka pintu dan cuma bilang: “berangkatlah nak, ayahmu telah mengajarkan kalian kekuatan sejak kalian masih kecil.” Juga saya teringat kedua anak saya yang ketika berangkat sedang tertidur dan saya tak sampai hati untuk membangunkan mereka untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal. Kekasih hati saya, tentu lebih sedih hatinya. Orang Kupang biasa bilang “yang pergi itu enak, tapi yang tinggal ini..”.

Selamat menikmati para perantau, semoga kita dikuatkan. Jangan lupa pulang ke rumah. Rumah di mana selalu ada yang menanti! (Matheos Viktor Messakh)

Sepe su babunga mama

Pohon Sepe

Sepe alias flamboyan. Pohon ini biasanya mulai berbunga di bulan Desember, jelang perayaan Natal. (Foto: Matheos Viktor Messakh.

Sepe su babunga mama Hari bagini mama su sibuk bikin kue selalu abis karena kotong enam orang makan terus Mama suka marah karena papa sonde bantu belum lagi kue sonde res, karena salah campur.

Sepe su babunga mama Hari bagini bapa su suru jahit baju dengan celana baru di om Mudin Seragam untuk enam orang Karena cuma satu pasang, dipakai jalan selamat berulang-ulang Biar dadolek sonde apa-apa, yang penting baru sepatu sonde perlu baru, karena belum tentu orang liat pi bawah.

Sepe su babunga mama Tanta be’a di seblah rumah su mulai putar lagu natal Te’o Rina di sebelah rumah ju su datang babantu mama Beras untuk om Lipus, mama su sadia Sapa yang antar, beta sonde tahu.

Sepe su babunga mama Anak-anak sekolah minggu dong su latihan drama Gereja su mulai bahias Itu gambar dengan patung Yesus di kadang domba itu Selalu ada di sudut gereja.

Sepe su babunga mama Dulu waktu papa masih di sana Di gudang banyak minuman kaleng Orang dong suka kirim Papa pung suka beli daging dari om Alex.

Sepe su babunga, mama Bunyi lonceng gereja ke rasa lebih terang Sebentar-sebentar ujan samua ijo sampe di atas bukit-bukit belakang rumah Air Jambu lebih penuh dari biasanya Kalau mandi tinggal lompat sa.

Ssepe su babunga mama pohon terang su menyala di ruang tamu kartu natal kiriman bagus-bagus papa ada siap bacaan Alkitab.

Sepe su babunga mama lai sadikit kotong su bajalan salamat mama Jalan kai jaoh sonde soal karena bemo sonde mau muat anak kecil Masuk di rumah om Kim tiga kali sonde soal Karena om Kim sedia banyak uang nekel.

Sepe su babunga mama parcel natal dari orang kaya lagi sadiki su sampe itu waktu papa masih ada posisi itu semua ilang waktu papa su pensiun tapi kotong ju punya sedikit uang untuk beli itu semua beta sonde mangarti kenapa hadiah bukan untuk orang miskin.

Sepe su babunga mama Kotong biasa bakumpul di meja makan Kadang tunggu kaka, karena dia masih di gereja Mori makan duluan karena dia masih kecil Yang lain bahitung sapa pung giliran berdoa kali ini.

Sepe su babunga mama Baju paling bagus su strika dari pagi Sore mama bawa kotong pi siram rampe Masing-masing tahu di mana kubur opa Pau om Mau, opa Pau, Pan Kiel.

Sepe su babunga mama Tanggal 24 malam ke hari karamat Kitong bakumpul jam 12 malam Yang tidor papa kasi bangun Petasan dan anak-anak balari motor di luar sonde soal Yang penting kotong berdoa dulu Beta sonde tahu kenapa papa selalu menangis.

Sepe su babunga mama Dari Batakte, Batuplat, Babau Kembali Batuplat kotong sama-sama Sekarang, papa su sonde ada lai… Selamat natal mama sayang. (Matheos Viktor Mesakh)

Serpong, 28 November 2011

Perayaan Natal

Panitia Natal Perempuan GMIT berfoto bersama Pdt Frengky R dan Ibu usai perayaan Natal tahun 2006.

Panitia Natal Perempuan GMIT berfoto bersama Pdt Frengky R dan Ibu usai perayaan Natal tahun 2006.

Pdt Agustinus Waguno dari Jemaat Anglikan Batam, memimpin kebaktian Natal Jemaat GMIT Eklesia Batam tahun 2000.

Pdt Agustinus Waguno dari Jemaat Anglikan Batam, memimpin kebaktian Natal Jemaat GMIT Eklesia Batam tahun 2000.

Pdt Agustinus Waguno dari Jemaat Anglikan Batam,berfoto bersama Pnt Bpk Pnt Adolf Makinpah usai kebaktian Minggu, tahun 2000.

Pdt Agustinus Waguno dari Jemaat Anglikan Batam,berfoto bersama Pnt Bpk Pnt Adolf Makinpah usai kebaktian Minggu, tahun 2000.

Prosesi pembakaran lilin dalam perayaan Natal GMIT EKlesia Batam tahun 2000.

Prosesi pembakaran lilin dalam perayaan Natal GMIT EKlesia Batam tahun 2000.

 

GMIT Eklesia dalam Lensa

Baptisan terhadap 30 anak, peneguhan sidi 30 anggota sidi baru, serta pemberkatan nikah 10 pasangan pengantin oleh Pdt M D Beh dari Sinode GMIT Kupang, di Jemaat Eklesia Batam tahun 1999.

Baptisan terhadap 30 anak, peneguhan sidi 30 anggota sidi baru, serta pemberkatan nikah 10 pasangan pengantin oleh Pdt M D Beh dari Sinode GMIT Kupang, di Jemaat Eklesia Batam tahun 1999.

Bpk Penatua Semuel Kamaleng usai kebaktian Paskah Jemaat GMIT Batam tahun 2000.

Bpk Penatua Semuel Kamaleng usai kebaktian Paskah Jemaat GMIT Batam tahun 2000.

 

 

 

 

Penatua Simon Olidefa (kiri) dan tokoh jemaat Bpk Simeon Lakoli berpose dekat papan nama gereja GMIT Eklesia Batam. Ini adalah papan nama pertama yang dipasang pada tahun 2000. Ketika itu gedung kebaktian masih dalam proses pembangunan.

Penatua Simon Olidefa (kiri) dan tokoh jemaat Bpk Simeon Lakoli berpose dekat papan nama gereja GMIT Eklesia Batam. Ini adalah papan nama pertama yang dipasang pada tahun 2000. Ketika itu gedung kebaktian masih dalam proses pembangunan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bpk Edu Kamaleng, Bpk Petrus Hizkia, dan Bpk Adolf Makinpah, menikmati makan siang usai ibadah perayaan Paskah GMIT EKlesia Batam tahun 2000.

Bpk Edu Kamaleng (kiri), Bpk Petrus Hizkia (tengah), dan Bpk Adolf Makinpah (kanan), menikmati makan siang usai ibadah perayaan Paskah GMIT EKlesia Batam tahun 2000.

  “FREE DOWNLOAD”ALKITAB DIGITAL

Alkitab Digital Plus merupakan cara baru berinteraksi dengan Firman Allah, Memudahkan Anda menggali kekayaan firman Allah.Melalui perangkat pencarian, ayat referensi, catatan-catatan, artikel,gambar, audio dan video. Melalui perjumpaan dengan Firman Allah, iman Anda semakin bertumbuh dan berbuah.Alkitab Digital Plus berisi :Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini.Alkitab Terjemahan Baru.Alkitab King James Version(KJV).Alkitab Audio.Katalog Museum Alkitab.Video Daud si Pemberani.Video “Sang Raja Lahir”.Artikl Forum-Forum Biblika Seri 1.Gema Nafiri.Peta Alkitab.dan Materi lainnya.Untuk mendapatkan multimedia dan Alkitab dalam terjemahan yang lain bisa didapatkan pada fitur Toko yang terdapat pada Alkitab Digital Plus.Melalui website ini anda bisa mengunduh secara GratisKlik Link Gambar Alkitab Digital Plus dibawah ini untuk mulai mendownload dan menginstal Alkitab Digital Plus. Alkitab Digital Plus disediakan untuk Windows, Linux dan Mac.Untuk Windows : File “Alkitab D+.msi” merupakan file instalasi aplikasi Alkitab D+ di Operating System Windows. Cara penginstalan : – Eksekusi file Alkitab D+.msi (klik 2 kali), kemudian ikuti petunjuk form penginstalannya.Untuk Mac : File “Alkitab D+.dmg” merupakan file instalasi aplikasi Alkitab D+ di Operating System OSX(MAC). Cara penginstalan : – Eksekusi file Alkitab D+.dmg, Kemudian drag Icon Alkitab D+ ke arah Application.Untuk Linux : File “Alkitab D+.tar.bz2” merupakan file instalasi aplikasi Alkitab D+ di Operating System Linux. Cara penginstalan : – Extract file menggunakan perita tar -xvf Alkitab D+.tar.bz2 , ke path yang diinginkan, kemudian jalan execute file Alkitab D+. UNTUK LIGHT VERSION (TANPA MULTIMEDIA, HANYA TB DAN BIMK)

Sumber dari SINI

 

Pedoman Penafsiran Alkitab Kitab Yunus

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia (KARTIDAYA) tiada henti-hentinya melanjutkan usaha penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang ada di Indonesia, agar Firman Allah dapat menyentuh lubuk hati yang terdalam dari insan Indonesia. Continue reading